This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 14 September 2012

puisi


pustaka
24 Januari 2011

sekelompok meja kayu berkawan kursi
tersusun rapi ditengah ruang  nan tenang
hiruk pikuk nun jauh disana
terasa hati teduh dan tentram

barisan rak  panjang tak berkaca
penuh buku bermacam ragam
rapi terawat setiap waktu
sungguh indah mata memandang

banyak insan datang berkunjung
menelusuri buku sepanjang rak kayu
lalu duduk menikmati laziznya ilmu
alunan murattal albaqarah terdengar sayup
buku dibaca terkuaklah ilmu

Muhima 2012


Menuju Ushuluddin Jaya
29 Mei 2012

Mentari di waktu dhuha  tampaknya mulai bosan memancarkan sinarnya. kapas-kapas putih yang berarak di langit semakin gelap, menjatuhkan rintik-rintik air tuk basahi  bumiku yang kering. Burung-burung berteduh disela-sela dedaunan rindang, berkicau sambil mengipas-ngipaskan sayapnya. Sepertinya cuaca hari ini tahu kalau hatiku sedang risau, bosan menunggu acara yang tak kunjung mulai. Padahal sudah dua jam aku duduk disini, namun acara MUHIMA yang dijadwalkan pukul 08.00 tersebut belum juga tampak tanda-tanda akan dibuka. MUHIMA merupakan suatu musyawarah tertinggi di fakultas untuk memilih Ketua SMF yang baru. Dengan perwakilan 4 orang perjurusan untuk peserta penuh dan dua orang untuk peserta peninjau. tampaknya panitia MUHIMA kali ini belum ada kesiapan baik dari segi administrasi ataupun acara. Namun aku tetap memahami dan mengapresiasi mereka karena pergantian pengurus SMF Ushuluddin yang telah sekian lama diundur-undur akhirnya bisa juga dilaksanakan meskipun dengan persiapan seadanya.
 Demi mewujudkan harapan agar bisa membawa Ushuluddin menjemput cahaya gemilang, aku rela meninggalkan tugas dan tanggungjawabku sebagai panitia LK 1 HMI Komisariat Ushuluddin yang telah berlangsung selama 7 hari. dan malam ini adalah puncak acara tersebut. Sebenarnya aku lebih memilih ikut membantu teman-teman komisariatku, tapi teman-teman tetap memaksaku mewakili mereka di MUHIMA dengan menitipkan secuil harapan demi kesuksesan fakultasku kedepan.
Namun aku benar-benar kecewa. Konsisten waktu tak lagi mereka hiraukan.  Ingin rasanya kupergi dan meninggalkan acara ini. Tapi ku sadar bahwa aku datang membawa pesan damai dan menyampaikan yang haq. Kucoba memungut kembali keping-keping sabar yang masih tersisa di relung-relung batinku. berusaha kuatasi dengan tetap berada pada lingkungan yang memberikan energi positiv.
Alhamdulillah acarapun berjalan lancar meski terdapat perdebetan hangat dan sedikit mengundang emosi disela-sela musyawarah. Selamat kepada saudara Asmil Shalat yang telah terpilihs menjadi ketua SMF Ushuluddin periode 2012-2013. Semoga bisa membawa Ushuluddin kearah yang lebih baik dan jaya. Do’a dan dukungan selalu kami berikan untuk kemashlahatan fakultas kedepannya.

Bumi Arung Palaka Kau Ku Kenang


KU RAJUT KENANGAN DALAM PIONIR

Jum’at, 26 november 2010.
Hari ini aku mulai mengukir sebuah kisah dalam hidupku. Aku akan mengarungi pengalaman baru selama 5 hari di sebuah kota yang berada di provinsi sulawesi selatan.  Aku sendiri belum pernah menginjakkan kakiku disana, namun yang terbayang olehku kota Bone  yang dijadikan tuan rumah PIONIR ke-5 tahun ini sangat indah dan menyenangkan. Bumi arung palakka ini adalah salah satu kota yang peradaban islamnya masih kuat dan dikenal juga dengan kota beradat. Dengan lion-air transit jakarta akhirnya pukul 12 waktu indonesia tengah (WITA)  aku bersama rombongan dari IAIN IB Padang sampai di bandara Sultan Hasanuddin Makassar . Disana sudah banyak ku temui kontingen-kontingen lain dari berbagai daerah, ada juga temanku yang sama sekolah waktu kami di jawa timur dulu. Aku sangat senang bisa bertemu mereka setelah beberapa tahun berpisah.
Matahari sedikit mulai bergeser dari posisi tegak diatas kepala, udara memang terasa panas, bahkan menurutku lebih panas dari kota padang, sehingga tak ayal badan terasa gerah dibuatnya. Tak sedikit keringatku mengalir membasahi kaos pink yang kukenakan.  Sementara menunggu bis jemputan dari panitia, kami duduk di teras lobby bandara sambil menikmati suasana dan berfoto disetiap tempat yang kami anggap bagus dan unik. Pemandangan yang kulihat didepan bandara SH itu sangat indah, dengan kolam dihiasi air mancur  menjadikan tempat itu megah dan unik. Tentu sangat rugi jika aku tidak mengabadikan keindahan itu dicemdigku.
Setelah menunggu lama akhirnnya giliran kontingen ku dijemput dan dibawa ke wisma nusantara untuk istirahat sampai datang bis jemputan selanjutnya. Pukul dua siang setelah melepas lelah sesaat sebuah bis berhenti didepan wisma. Bus itu kelihatannya sudah tua dan kurang terawat sehingga tampak kotor dan berdebu.   Ternyata kendaraan itu yang akan membawa kami sampai ke Bone. Dengan ransel hitam dipundakku aku bergegas menuju bus tersebut dan sesaat setelah melompat kedalam bus aku bernafas lega. Aku merebahkan tubuhku yang penat dan berharap bisa menikmati perjalananku. Semua kursi sudah penuh terisi dan sesak oleh barang-barang kami yang lumayan banyak. Tak apalah, asalkan hati lapang dan kami bisa sampai ke tujuan dengan selamat.
            Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan menyita banyak waktu, tiba-tiba bus yang kami tumpangi berbalik arah . Sopir  yang dipercaya panitia  sekaligus menjadi penunjuk jalan bagi kami mengatakan bahwa jalan yang dilewati tadi adalah jalan yang salah. Kami sebagai pengikut yang tidak tahu apa-apa hanya bisa nurut asalkan sampai ke Bone melewati jalan yang benar. Tak lama kemudian sopir yang kira-kira berumur 40 tahunan itu kembali memutar  bus kearah jalan yang pertama kami lewati, lagi-lagi dia mengatakan salah jalan. Aku dan rombongan sontak heran dan bingung kenapa bisa bolak balik seperti ini, padahal sopir itu penduduk asli sana otomatis tahu jalan mana yang akan dilalui. Namun kami tetap sabar berharap jalan yang akan ditempuh kali ini adalah jalan yang benar .
Beberapa jam telah berlalu dan sangat jauh perjalanan yang sudah ditempuh namun masih belum ada tanda-tanda yang meyakinkan.
 kecurigaan kami mulai muncul, jangan-jangan kami salah jalan lagi. Apalagi wajah sopir ketika itu tampak sedikit panik. Padahal menurut informasi yang didapat sebelumnya sekitar 4 atau 5 jam kami sudah sampai di kota Bone, dan di perjalanan menuju kesana kami bisa melihat pemandangan indah yang dihiasi bukit-bukit, hutan -hutan serta jalanan yang berliku-liku. Tapi informasi yang kami dengar belum sedikitpun celahnya terlihat. Jalan menuju kota bone yang sangat kami impi-impikan saat itu tak kunjung tampak.
 Ditengah perjalanan, pak Salmadanis yang mengetuai rombongan kami meminta sopir berhenti sebentar disebuah warung kecil dipinggir jalan, meskipun sebelumnya sudah banyak warung-warung  yang sudah  terlewati. Diwarung kecil itu bergelantungan jeruk-jeruk berukuran besar seperti jeruk bali,  mereka menyebutnya jeruk manis atau jeruk madu. Sambil mencicipi dan membeli beberapa buah jeruk , PR 3 mendesak sopir untuk bertanya kepada sipenjual jeruk mana jalan yang benar menuju bone, kota yang menjadi sangat jauh dalam pikiranku.  Ternyata jalan yang kami tempuh saat ini bukanlah jalan yang tepat. Jalannya tidak salah, cuma butuh waktu yang lama karna akan menempuh perjalanan yang sangat jauh, dan bisa sampai di Bone besok sore. Si penjual jeruk menyarankan agar kami berbalik arah dan memberitahukan jalan yang benar. Perasaanku langsung berubah setelah mendengar informasi dari bapak penjual jeruk itu. Kesal, bosan, letih, gerah, dan haus bercampur jadi satu. Tambah lagi lapar  yang amat sangat, karena perut kami tadi hanya terisi sedikit. Sebelum berangkat dari padang kami tidak sempat makan nasi karena subuh-subuh sekali disaat orang-orang masih terlelap dan jalanan masih gelap kami sudah harus berangkat menuju BIM dan take off pukul 06.00. Dan baru bisa makan setelah sampai Di bandara Sultan Hasanuddin. Untung ada Pak In salah seorang staf akademik yang juga menjadi official kami membawa bekal nasi dan lauk dari rumah.Walaupun hanya sepuluh bungkus, setidaknya bisa mengisi perut kami yang berjumlah dua puluh satu orang ini. Kami makan bersama diteras depan bandara, tak peduli duduk bersila diatas lantai yang berdebu ataupun dilihat banyak orang.
Dengan wajah tanpa dosa dan tak bersalah, sopir  itu berbalik arah mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh penjual jeruk. Kali ini aku benar-benar berharap dan berdo’a mudah-mudahan jalan yang akan ditempuh ini adalah jalan yang benar dan tidak salah lagi.  Ntah berapa kali bolak balik di jalan yang sama, sampai-sampai aku hafal nama jalan disana, bahkan Masjid Besar yang berada dipersimpangan jalan sangat teringat olehku tempat dan bentuknya karna tanpa disadari sudah 4 kali kami melewatinya.
Tak terasa matahari mulai enggan menemani perjalananku. ia terlihat malu-malu hendak membenamkan diri diufuk barat. perlahan menghilang dan bersembunyi dibalik gelap malam bersama bintang-bintang yang  berusaha menghibur keresahan hatiku.Tidak hanya aku, semua teman-teman dan pembimbing juga merasakan hal yang sama. Wajar saja kami merasa letih dan bosan, karna sudah berjam-jam duduk diatas bus tua tak terawat itu. dan tak ada hiburan sedikitpun didalamnya. Jangankan TV atau video, musik dari tape recorder saja tidak ada. Namun kebersamaan kami mengalahkan perasaan kesal yang menyelimuti hati saat itu. Di perempatan jalan, kami melihat papan penunjuk jalan bertuliskan ”Bone”. Wajah yang sudah hampir putus asa tiba-tiba langsung berubah ceria dan serasa ada pancaran hebat dihati kami.  harapan dan impian kami untuk sampai di STAIN Watampone akan terwujud meskipun akan menempuh 4 atau 5 jam-an lagi.  
Sebelum melanjutkan perjalanan kami berhenti melepas lelah sambil menikmati udara malam dipersimpangan jalan arah kota bone. Sebungkus nasi ditemani ikan bakar berlumur cabe merah dan dilengkapi sedikit sayur kol membuatku bersemangat untuk menyantap hidangan makan malam, meskipun hanya duduk diemperan warung penduduk. Apalagi saat itu perutku sedang dilanda lapar yang amat sangat.
Kira-kira pukul delapan malam kami kembali melanjutkan perjalanan  menuju kota bone. aku tidak bisa menikmati indahnya suasana diluar karena pemandangan disepanjang jalan diselimuti malam nan kelam, hanya ada lampu-lampu kendaraan yang berbaris rapi didepan dan belakang bus kami. Kebanyakan teman-temanku sudah tertidur pulas, akupun sudah mulai merasa ngantuk. Tak lama aku tertidur lelap, dibuai nyenyak sejuknya angin yang bertiup dari jendela. meski sekali-sekali aku terbangun saat busku berhenti. Tiba-tiba aku tersentak saat bus memasuki gerbang bertuliskan ”STAIN Watampone”. Aku melihat arloji putih ditangan kiriku, ternyata sudah pukul setengah dua malam. Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga ditujuan dengan selamat. Bermacam keluhan kami adukan kepada panitia saat mereka mendekati rombongan kami yang tampak sangat letih karna menempuh perjalanan yang seharusnya hanya 4 jam menjadi lebih 10 jam. Panitia merasa sangat bersalah dan meminta ma’af atas kelalaian sopir yang mereka percayakan untuk menjemput kami.
Tak lama kemudian panitia mengantar kami ketempat penginapan tak jauh dari kampus STAIN. Memasuki jalan Bataritoja kami berhenti didepan sebuah rumah bercat putih. kami semua sibuk membereskan barang masing-masing berharap tidak ada yang ketinggalan di bis. Dengan sebuah tas dipundakku cepat-cepat aku turun. sejenak aku memperhatikan bangunan yang ada didepanku. Sepertinya rumah ini sudah tidak ditempati lagi oleh pemiliknya, tapi tetap bersih dan terawat.  Inilah rumah tempat kami berteduh melepas lelah selama berada di Bone. aku menarik koperku menuju salah satu kamar diantara 6 kamar yang ada. Akupun segera istirahat berharap besok pagi dapat bangun kembali dengan semangat. Inilah kesan pertamaku awal menginjakkan kaki di bumi arung palakka, suka dan duka sentiasa menemani perjalanan kami. Walau kami merasa letih dan lelah, namun semua itu lenyap oleh kebersamaan dan tawa canda yang selalu menghiasi hati kami.

Sabtu, 27 november 2010
Pagi ini mentari mulai memancarkan sinarnya. Ini adalah pagi pertamaku di kota bone. Angin bertiup menyejukkan hati.  Jalanan masih sepi, suara hiruk kendaraan yang lalu lalang dijalanan masih belum terdengar. Hanya ada kicauan burung yang menari-nari diatas pohon, seakan sedang bernyanyi menyambut pagi hari yang segar dan indah ini. Udara masih terasa dingin, kulangkahkan kakiku keluar dan duduk ditepi kolam didepan rumah sambil menikmati udara pagi. Kuharap pagi yang cerah ini memberi motivasi untuk diriku agar tetap semangat menjalani berbagai kegiatan dan kompetisi pada acara pionir ini.
Kira-kira pukul sembilan kontingenku mulai menuju lapangan dan ikut meramaikan acara pembukaan pionir. terik mentari perlahan-lahan mulai menyapa gelora hijau yang sudah ditata rapi oleh panitia dengan berbagai dekorasi. kami berbaris diantara seribu lebih kontingen yang datang dari berbagai daerah diseluruh nusantara. Diam-diam seorang jurnalis melirik barisan kami dari kejauhan dan dengan sedikit tergesa dia mendekat, sekedar untuk menyampaikan bahwa dia pernah ke padang dan sangat kagum pada orang minang. karena ketika datang ketanah minang dia mendapatkan sikap yang sangat baik dan ramah dari masyarakat. Ya, itulah yang membuat dia kagum dan sangat menghargai orang padang.
Satu keceriaan juga ku rasakan pada saat pawai ta’aruf. Berbaris dibelakang kami kontingen jayapura yang tampak semangat melantunkan yel-yelan mereka, meski sudah berjalan jauh dibawah terik matahari. Wajah lugu dan sikap narsis mereka tidak bisa kulupakan, apalagi yel-yelan yang sering mereka nyanyikan menunjukkan ciri khas mereka sebagai seorang anak papua. Kira-kira liriknya seperti ini ”hitam kulit, keriting rambut, aku papua.” sampai-sampai aku dan teman-teman pun ikut nyanyi bersama mereka.
Aku baru tahu kalau malam ini kelompokku tampil debat bahasa arab lawan stain ponorogo. rasa cemas dan takutpun datang menyelimuti hatiku karna tampil dihari pertama, apalagi persiapanku belum seberapa. aku deg-degan seolah-olah akan berhadapan dengan bagian keamanan waktu di pondok dulu.hehehehe.
 Ketika  perdebatan berlansung, tak banyak yang bisa kukemukakan. Lidahku serasa berat sekali sehingga sedikit kalimat yang terucap. Untung temanku Rezy tak merasakan hal yang sama denganku, sehingga dia bisa lebih leluasa berpikir dan berbicara. Walhasil, kelompok kami masuk 20 besar dan akan berhadapan dengan IAIN Banjarmasin pada malam berikutnya. Kali ini aku benar-benar ciut karna lawan yang akan kuhadapi sangat pintar. Sebelumnya aku sempat melihat penampilan mereka melawan Stain batusangkar, sungguh bagus dan lancar sekali bahasa arab mereka. Aku tidak bisa lagi konsentrasi mempersiapkan bahan untuk debat,  sepertinya aku kalah sebelum bertanding. Ya, itulah yang aku rasakan. Namun pada saat tampil, aku sedikit percaya diri dibanding malam sebelumnya, tapi tetap saja tak banyak bicara. Selain bahan bacaanku sedikit, waktu yang diberikan juri untuk kelompokku juga tidak banyak. Sehingga nasib kami kurang beruntung dan belum bisa meraih kemenangan. Namun banyak hal yang ku dapat dari pertandingan ini. Selain pengalaman, banyak pelajaran yang bisa kujadikan alat ukur untuk diriku khususnya, otomatis menjadi cambuk motivasi untuk terus maju dan miningkatkan diri.
Dalam pertandingan pasti ada kalah dan menang, dan hari ini adalah kemenanganku yang masih tertunda, tapi aku yakin dilain waktu dan dilain tempat aku pasti bisa sukses, amin.
Beberapa orang temanku masih ada yang bertanding dihari ke-3 dan ke-4, yaitu tim takraw dan tilawah putra,  mereka mewakili kampusku masuk kebabak final. Aku dan teman-teman tak pernah absen menjadi suporter, setidaknya kehadiran kami bisa menambah semangat dan percaya diri mereka. Hujan dan panas tak sedikitpun kami hiraukan, yang penting kami hadir ditengah mereka untuk memberikan teriakan dan sorakan yang membawa semangat untuk mereka.
Akhirnya tibalah acara puncak , acara yang sangat dinanti-nantikan oleh para peserta pionir. disebuah gedung olahraga penuh sesak oleh para peserta dan panitia acara. Malam ini juga akan diumumkan pemenang2 tiap pertandingan. Kampusku dapat 1 emas dan 1 perak, kami bersyukur karna ada buah tangan yang bisa kami persembahkan untuk IAIN tercinta. Dan yang mendapatkan juara umum pada pionir kali ini adalah STAIN Palopo.

1 november 2010
Pagi ini matahari tak secerah biasanya, begitu juga hatiku. Aku sedih karna harus meninggalkan kota bone, walaupun sudah beberapa hari aku tinggal disini. tapi ya harus gimana lagi, tiket sudah dipesan dan aku harus balik lagi kepadang kuliah seperti biasanya. Namun kota bone kan selalu terkenang olehku. masyarakatnya, bangunan-banguanya, suasananya dan segala yang pernah kulihat tak kan pernah kulupakan. Selamat tinggal bumi arung palakka, kuberharap bisa kesini lagi dilain waktu.
 Selama diperjalanan menuju makassar mataku selalu liar menangkap pemandangan-pemandangan nan indah dan asri. Kali ini perjalananku sangat menyenangkan dan nyaman. Dengan bis kampus dari makassar kami langsung menuju gowa yaitu kawasan kampus 2 UIN Alauddin Makassar. Aku sungguh takjub ketika  melihat pemandangan saat memasuki gerbang kampus UIN alauddin. Kampusnya sangat luas, bangunannya unik, besar dan bertingkat-tingkat, jauh beda bila dibandingkan dengan kampusku. Ketika aku dibawa kepenginapan, mereka menyambut kedatangan kami dengan ramah dan senang. Itu yang membuatku kagum terhadap mereka. Sesore-sore haripun mereka mengajak kami jalan-jalan keliling kota makassar, menikmati suasana malam dipinggir pantai kota. Baru kali ini kumelihat ada kota diatas laut. kata orang laut itu didam dan dijadikan kota, jadilah kota diatas laut. Ada juga masjid terapung yag masih dalam masa pembangunan. Benar-benar kota yang indah dan megah.
Aku juga sempat mencoba pisang epe khas makassar, menurutku makanan itu seperti pisang bakar kalau dipadang. Kemudian kami dibawa ke karebossi, lapangan bola yang dibawahnya ada supermarket. Setelah puas berbelanja membeli oleh-oleh untuk ku bawa kepadang, akhirnya kami kembali kepenginapan di wisma uin alauddin.

2 november 2011
Hari ini akau dan rombongan harus balik lagi kepadang.  Padahal aku ingin sekali berlama-lama dikota makassar, biar aku bisa jalan-jalan dan keliling kota sepuasnya,hehehe. But, it’s time for going back to my city. good by sulawesi. I hope I can visit you another time. 

skripsii..ooo.. skripsi..


SKRIPSI BUKAN SEKEDAR FORMALITAS




Oleh: Hidayati

Ketika kita telah sampai di penghujung kuliah alias semester akhir, maka pada saat itu kita dihadapkan dengan yang namanya Skripsi. Skripsi adalah syarat yang harus kita penuhi jika ingin lulus dari masa perkuliahan. Skripsi adalah sebuah proses yang mahal harganya. Skripsi ini bermakna lebih dari sekadar tumpukan kertas atau syarat lulus kuliah. Ini bukan tentang hasil, ini adalah sebuah proses. Proses pendewasaan diri, proses menguji batas kemampuan diri baik pikiran, tenaga, dan mental. Proses mengalahkan diri sendiri dari egoisme dan kemalasan. Proses untuk melatih kesabaran dan belajar untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab atas usulan penelitian yang kita ajukan. Tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai dan tanggung jawab untuk bisa mempertahankan ide penelitian. Tidak ada jadwal yang akan mengatur, terserah kapan akan dikerjakan dan kapan akan diselesaikan. semua tergantung kita, deepend on ourself.
Pada dasarnya skripsi memang untuk persyaratan lulus dan wisuda. Tak sedikit yang menganggap bahwa wisuda itu tidak terlalu penting, hanya seremoni. Bahkan ada yang mengatakan “buat apa susah2, toh belum sarjana aja saya sudah dapat kerja kok”. Tetapi kita harus ingat bahwa ada orang tua yang selalu menunggu kabar kelulusan kita. Bagi orang tua, simbol keberhasilan anaknya adalah dengan selesainya pendidikan dan menjadi sarjana. Pengorbanan dan perjuangan mereka selama ini untuk membiayai kita, terobati dengan melihat anaknya memakai toga. Itulah yang harus kita lakukan, membuat orang tua bangga dan bahagia, salah satunya dengan wisuda . Dan salah satu tahapan untuk menuju wisuda adalah skripsi. Makanya kita harus bisa mengalahkan semua egoisme dan kemalasan diri, demi kebanggaan untuk orang tua kita.
Proses penyelesaian skripsi memang tidak semudah yang kita bayangkan, tidak semudah mengeja dan menulis alif-ba-ta. Makna dan manfaat sesungguhnya dari skripsi justru akan didapatkan selama proses yang kita lalui. mengajukan usulan masalah beberapa kali sebelum akhirnya diterima. Gonta-ganti judul. Membagi waktu dengan jadwal kegiatan lain. Mengejar dosen pembimbing ke sana ke mari. Perbaikan beberapa kali sampai di ACC dosen pembimbing. Namun dibalik proses itu banyak pelajaran yang kita dapat. Kita belajar banyak hal, membaca banyak buku, belajar menulis, menyaring berbagai perspektif, lalu belajar membahasnya dengan kritis. Kita belajar sabar menghadapi berbagai cobaan. Belajar ikhlas menerima kenyataan saat harus gagal atau tertinggal dari teman-teman yang lain. Kita belajar bersyukur dan mengambil sisi positif dari setiap kejadian. Kita belajar berlapang dada dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, kemudian bertawakal. Kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai harapan, berarti itu bagian dari rencana Allah untuk menguji kita. Sering kita berpikir kita tidak mampu dan hampir menyerah, namun Tuhan memberikan ujian justru karena ia percaya kita mampu. Karena ia mengenal kita melebihi diri kita sendiri. 
Jadi, nilai skripsi yang sesungguhnya dilihat dari seberapa besar proses pembelajaran dan pendewasaan yang terjadi di dalam diri kita.

Sebuah Dilema

­­­­­­Program Khusus di Persimpangan Jalan
Oleh : Hidayah Norizza & Iyan el-Azzami
Potret perjalanan dari awal mula berdirinya jurusan Program Khusus Tafsir dan Hadits ( wihdatul khaasah ) dengan keluarnya Surat Keputusan amanah Direktur Jendral  Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj.11/532/05 kepada IAIN Imam Bonjol Padang sampai hari ini, sepertinya telah meninggalkan jejak-jejak pergulatan yang layak kita renungkan. Program Khusus pernah menjadi jurusan yang cukup diperhitungkan di lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang dan juga masyarakat SUMBAR umumnya. Dinamika dan lika-liku perjalanan Program Khusus Tafsir dan Hadits memang mempunyai sudut pandang yang cukup mengagumkan.  
Bukan sikap yang salah jika kita merasa bangga dengan jurusan yang mewadahi mimpi-mimpi kita ini, yang akan menjadi bahtera untuk kita, agar tidak tenggelam dalam mengarungi samudera mimpi-mimpi itu. Program Khusus yang telah menyandang standar International Class ini. Merupakan sebuah jurusan unggulan yang menjadi kebanggaan fakultas Ushuluddin dengan berbagai program unggulan, seperti kegiatan belajar mengajar menggunakan bahasa arab dan inggris, serta adanya bimbingan tahfiz dan halaqah yang merupakan kuliah tambahan non sks. Selain itu, sebagai penunjang segala kegiatan dan kesibukan Program Khusus, mahasiswa difasilitasi dan dijanjikan beasiswa selama masa kuliah maksimal delapan semester, serta free living cost, ( bebas biaya asrama ) yang tidak dapat dipungkiri, beasiswa dan program unggulan inilah yang menjadi daya tarik sebagian besar mahasiswa untuk masuk ke Program Khusus Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang.
Dalam dinamika perjalananya, generasi awal Program Khusus memang benar-benar menjadi pusat perhatian banyak kalangan. Berbagai  prestasi berhasil diukir baik dari kalangan mahasiswa maupun dosen Program Khusus, semua ini didukung dengan sistem dan program yang benar-benar excelent, serta tidak terlepas dari dukungan dan semangat semua dosen dan mahasiswa yang luar biasa. Beberapa mahasiswa Program Khusus sempat mengenyam pendidikan di Luar Negeri, seperti Mesir dan Amerika, MTQ kecamatan, kabupaten, kota sampai tingkat nasional banyak diikuti oleh mahasiswa program khusus. Para jawara bermunculan dari beragam cabang perlombaan yang ada.  Tak hanya itu, dalam organisasi pun mereka dapat berkiprah dengan baik, organisasi internal kampus maupun luar kampus. ” Jujur saya sangat kagum dengan kegiatan organisasi Program Khusus, khususnya HMJ pada tahun pertama dan kedua, mereka bukan hanya mahasiswa yang mempunyai semangat pergerakan dinamis di bidang akademik dan kekompakan yang begitu kuat, tetapi dalam keorganisasian HMJ Program Khusus sempat menjadi saingan serius di tingkat Dewan Mahasiswa ( DEMA ) IAIN Imam Bonjol Padang, sehingga sempat beredar isu bahwa Program Khusus hendak beralih menjadi Perguruan Tinggi sendiri” ungkap Junaid, alumni Program Khusus angkatan 2006, dalam wawancara( 27/05/12).
  Dalam perjalananya mahasiswa Program Khusus adalah mahasiswa yang ikut berkontribusi besar dalam pembangunan kampus. Selain itu banyak lagi prestasi yang dapat dibanggakan dari program unggulan ini dalam pentas lokal sampai nasional. Karena itu, tak sedikit mahasiswa dan dosen seantero IAIN ikut kagum dan bangga akan program ini. Bahkan nama Program Khusus sempat mengudara ke khalayak masyarakat khususnya masyarakat Sumatra Barat.
Sudah menjadi suatu hal yang dapat dipahami, bahwa tidak selamanya pohon dapat berdiri kokoh dan berbuah sepanjang tahun, ia akan mengalami masa gugur daun, ranting yang patah bahkan batang yang rapuh kemudian mati begitu saja karena tidak pernah dirawat dan diperhatikan.
Seiring berjalanya waktu, program khusus yang pernah mengharumkan nama fakultas ushuluddin ini, sekarang terasa begitu berbeda. Hal-hal yang membuat unggul program ini satu persatu telah pudar dan lenyap. Beasiswa dan asrama gratis yang diiming-imingkan selama 4 tahun tak terlihat lagi wujudnya, bahkan hampir tak berfosil, Mahasiswa Program Khusus semakin merasa terjepit dan terkatung-katung oleh janji-janji yang tak pasti. Sehingga terpaksa keluar asrama dan mencari tempat yang lebih murah dan terjangkau. Mahasiswa mulai berfikir untuk mencari kerja demi melanjutkan pendidikan dan cita-cita mereka. Hal ini menjadi salah satu sebab kemunduran Program Khusus, program halaqah pada malam dan setelah subuh tidak lagi dapat dijalankan, karena tempat tinggal mahasiswa yang saling berjauhan. Bahkan halaqah-halaqah yang dijadwalkan siang hari tidak berjalan maksimal. Dari beberapa jadwal halaqah hanya satu atau dua yang berjalan. Hal ini terkendala oleh kehadiran mahasiswa ataupun dari pihak dosen itu sendiri.
Dari beberapa fakta yang kita lihat, pesona Program Khusus memang sudah pudar. Mulai dari kegiatan halaqah yang tidak efektif, beasiswa tidak ada, mahasiswa tidak lagi tinggal dalam satu asrama, lokal belajar yang tidak pasti, birokrasi yang tidak jelas, peraturan berpakaian yang masih diperdebatkan, tidak adanya bimbingan tahfiz dan bahasa, serta semakin kurangnya kedisiplinan dosen dan mahasiswa. Demikianlah potret Program Khusus  hari ini yang cukup sulit untuk dibantah dan dipungkiri oleh alasan apapun. Entah apa penyebab semua itu, semua  terasa begitu buram karena memang tidak pernah diperjelas kepada mahasiswa Program Khusus oleh pihak-pihak yang terkait dalam hal ini, seolah-olah mereka ingin  menghilangkan Program Khusus melalui seleksi alam, hilang dengan sendirinya.
Namun, kenapa semuanya diam dan membisu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam diri Program Khusus?, kenapa tidak ada yang berani membuka semua tabir kelabu ini?, kenapa kita hanya merenung dan meratapi semua hal yang telah terjadi?, apa yang membuat kita terus termenung dan hanya termenung di belakang kelambu?
            Ditengah kemelut yang terjadi, HMJ Program Khusus (Himpunan Mahasiswa Jurusan) juga ikut-ikutan tak bergairah. Lembaga yang seharusnya menjadi wadah untuk menampung segala aspirasi mahasiswa sepertinya tidak dapat lagi menjadi sebuah pilihan. Selama ini kita cendrung apatis terhadap segala permasalahan yang terjadi. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita menyatukan suara dan bertindak, melakukan perubahan untuk kebaikan kedepan. Kita harus menyadari, ada banyak hal yang harus diluruskan dan diperbaiki. Kepedulian terhadap jurusan dan komitmen terhadap nasib mahasiswa di masa depan harus diinterpretasikan ke dalam hal-hal yang positif.
Program Khusus adalah bagian dari masa depan kita, yang harus kita perjuangkan dan harus tetap berjalan, kita harus bangun dari tidur yang berkepanjangan ini, jangan lagi hidup dalam kebohongan. Akankah kita terus hidup dalam sebuah nama yang terus dikagumi banyak orang, tetapi sejatinya kita sudah cukup jauh dari apa yang semestinya. 
Mungkin tulisan ini tidak berarti apa-apa dalam situasi yang fakum ini, bahkan akan mengundang kontrovesi bagi pihak-pihak yang  memang tidak mau membaca situasi sulit ini. Namun semua begitu nyata di mata kita, sudah saatnya kita melakukan sesuatu untuk Program Khusus, kebisuan ini harus menggugah jiwa kritis kita sebagai mahasiswa.
Hari ini kita disuguhkan dengan sebuah peradaban baru, yang kita tidak tahu apakah peradaban itu akan benar-benar menjadi baru, atau sebaliknya akan bertambah berkarat dan lapuk. Semoga ketua baru jurusan Program Khusus hari ini, Bapak M. Guswandi Syas, MA dapat mendukung sepenuhnya semua aspirasi positif yang membangun, untuk kejayaan Program Khusus ke depan demi menciptakan ulama dan cendekiawan yang dapat mewarisi ilmu-ilmu Al-Qur’an dan hadits seutuhnya.























Sabtu, 26 Maret 2011

About me


My name is Hidayati. I was born on 27 september 1989 in Bukittinggi, west Sumatra. I’m the fifth child  in my family. I have  five sisters and one brother. My father is a seller, his name is masrizal. And my mothers name is nurmilawati, she is a household. They are very kind to me and always give me motivation for every good activities. we always face our live by spirit and happy.  
After completing my elementary school in 2001, I went to study at a modernist Islamic high school, Sumatra thawalib parabek, a school founded by the moderate muslim modernist, syeikh Ibrahim Musa (famously called inyiak parabek) wich grew out of serious attempts at spreading the cause of Islamic modernist among minangkabau people.
In 2004 I continued my study to Islamic Teacher Training Collage
 ( ITTC )  Darussalam gontor for girls 1 at mantingan ngawi, east java, Indonesia. And I finished my study there  after three years at 2007.
Before  going to university, I do my devotion at adlaniyah, an Islamic school that located in ujung gading,west Pasaman. The serve or devotion must be doing by student who finished his study at Gontor. It’s one of requirement  for getting sttb or diploma.
 I was there for a year as a teacher and a adviser of dormitory.  I teached class 1 and 2 of junior high school and class 1 up to class 3 of senior high school for many kinds of lessons such as mahfuzhot, Arabic language, English, aqidah islam, muthala’ah, sport education, etc. In 2008 I finished my devotion and I continue my study to Islamic Institute IAIN Imam Bonjol Padang and SPS UIN Jakarta. Now I'm a lecturer at STIQ Ar-Rahman Bogor and the director of Hidayah Qur'anic Center Bekasi.